wb_sunny

Breaking News

Virus Corona Tidak Mudah Menyebar di Sekolah

Virus Corona Tidak Mudah Menyebar di Sekolah


Sebuah studi yang dilakukan terhadap sekolah-sekolah di Jerman menemukan fakta, lembaga pendidikan bukan tempat utama penyebaran virus corona. Murid-murid justru telah menjadi 'rem' infeksi Covid-19.

Dilansir dari The Telegraph, Selasa (14/7), dalam studi yang dipublikasikan pada Senin itu, jejak virus ditemukan kurang dari satu persen pada murid-murid dan guru yang diteliti.

Para ilmuwan dari Universitas Teknik Dresden mengatakan mereka percaya anak-anak dapat bertindak sebagai 'rem' pada rantai infeksi.

Prof Reinhard Berner, kepala kedokteran anak di Rumah Sakit Universitas Dresden dan pemimpin penelitian, mengatakan hasil penelitian menunjukkan virus tidak menyebar dengan mudah di sekolah.

"Ini justru sebaliknya," kata Prof Berner pada konferensi pers.

"Anak-anak bertindak lebih sebagai rem pada infeksi. Tidak setiap infeksi yang mencapai mereka ditularkan," jelasnya.

Studi ini menguji sebanyak 2.045 responden yang terdiri dari anak-anak dan guru di 13 sekolah - termasuk beberapa di mana ada kasus Covid-19. Ditemukan fakta juga, para ilmuwan menemukan antibodi hanya dalam 12 orang dari seluruh responden yang diteliti.

"Ini berarti bahwa tingkat kekebalan dalam kelompok peserta studi jauh di bawah 1 persen dan jauh lebih rendah dari yang kami harapkan," kata Prof Berner.

"Ini menunjukkan sekolah belum berkembang menjadi hotspot," tukasnya.

Ditentang Orang Tua Murid-murid
Studi ini merupakan jawaban terhadap orang tua anak-anak di Jerman yang tak mengizinkan anaknya kembali bersekolah. Lokasi penelitian dilakukan di 13 sekolah di distrik Dresden, Bautzen dan Görlitz yang berada di wilayah Saxony pada Mei dan Juni lalu.

Wilayah Saxony penting karena merupakan satu-satunya dari 16 negara bagian Jerman yang membuka penuh kembali sekolah kelas pada bulan Mei lalu.

Keputusan itu sangat kontroversial pada saat itu dan para orang tua memenangkan gugatan hukum atas keputusan itu. Pemerintah daerah akhirnya memerintahkan penelitian untuk menentukan apakah kebijakan itu benar.

Temuan ini diperkirakan akan menjadi debat publik di Jerman, dengan rencana pembukaan penuh sekolah-sekolah di seluruh negeri setelah liburan musim panas.

Studi ini menguji darah sekitar 1.500 anak berusia antara 14 dan 18 dan 500 guru yang berusia antara 30 dan 66 untuk antibodi terhadap virus.

Lima dari mereka yang ambil bagian sebelumnya dinyatakan positif virus. Para penulis penelitian mengatakan fakta bahwa hanya tujuh lainnya yang ditemukan memiliki antibodi dan mengatakan virus tidak menyebar dengan cepat di lingkungan sekolah.

24 dari mereka yang ikut tes memiliki anggota keluarga yang dites positif, tetapi hanya satu di antaranya yang terbukti mengembangkan antibodi.

"Ini berarti sebagian besar anak sekolah tidak terinfeksi sendiri meskipun ada infeksi di rumah tangga. Kita harus mempertimbangkan temuan ini ketika memutuskan langkah-langkah untuk membatasi kontak sosial," pungkas Prof Berner. 

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Posting Komentar