wb_sunny

Breaking News

Waspada Corona Wajib Jaga Jarak Antar Sesama Manusia

Waspada Corona Wajib Jaga Jarak Antar Sesama Manusia


Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) Doni Monardo menegaskan, kewajiban praktik jaga jarak dari kerumunan, atau social distancing, harus dilakukan masyarakat. Akan tetapi, tak sedikit orang yang kurang memahami dan belum menerapkan social distancing.

Hingga kini, masih banyak kantor yang belum menerapkan metode kerja dari rumah (work from home) bagi karyawannya. Metode kerja dari rumah merupakan salah satu cara menjaga jarak dari kerumunan.

Hal ini membuat kepadatan orang di sejumlah lokasi masih jamak terlihat, setidaknya hingga (Senin 16/3/2020) lalu. Salah satu contohnya, terjadi penumpukan penumpang yang hendak menggunakan transportasi massal di sejumlah halte serta stasiun pada kawasan DKI Jakarta.

Selain diakibatkan adanya pembatasan moda transportasi umum, penumpukan juga terjadi karena masih banyak pegawai negeri dan swasta yang harus pergi ke kantor.

Pemerintah sebenarnya telah memberi kelonggaran bagi pegawai negeri sipil (PNS) agar bisa bekerja dari kediaman masing-masing, selama masa darurat Covid-19 berlangsung. Jumlah pejabat dan PNS yang diminta tetap bekerja dari kantor juga dibatasi, berdasarkan Surat Edaran Menteri PAN-RB Nomor 19 Tahun 2020.

Akan tetapi, kondisi berbeda dialami para pekerja swasta dan industri sejumlah sektor. Kamar Dagang dan Industri (Kadin) misalnya menyebut, tak semua pekerja di berbagai lini industri dapat bekerja dari rumah.

Pemakluman terhadap pekerja di sektor tertentu yang tak bisa bekerja dari rumah juga disampaikan Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi, dan Energi Provinsi DKI Jakarta. Dalam Surat Edaran Nomor 14/SE/2020, Dinas tersebut mengatakan, “Perusahaan yang tidak dapat menghentikan kegiatan usahanya, mengingat kebutuhan langsung yang berhubungan dengan pelayanan kesehatan, kebutuhan bahan-bahan pokok, dan BBM.”

Jarak aman

Sebenarnya, masyarakat selama social distancing masih bisa beraktivitas di luar rumah. Akan tetapi, jarak aman antar-orang harus dijaga untuk meminimalisir potensi penularan Covid-19.

Dikutip dari New York Times, saat social distancing diterapkan setiap orang idealnya menjaga jarak sekitar 1,5 meter lebih dengan orang lain. Jarak ini dianggap aman dan meminimalisir potensi penularan Covid-19.

Covid-19 sudah dipastikan bisa menular melalui percikan bersin atau ludah (droplet). Jika seorang positif Covid-19 berada terlalu dekat dengan orang sehat, maka virus berpotensi besar berpindah melalui interaksi seperti jabatan tangan, percikan bersin, atau via sentuhan.

“Setiap pengurangan kontak erat yang dilakukan akan berdampak signifikan terhadap kemampuan virus menyebar di tengah masyarakat,” ujar Ketua Ilmu Kesehatan masyarakat Georgia State University, Gerardo Chowell.

Direktur Senior Pencegahan Infeksi dari lembaga John Hopkins, Lisa Maragakis, menyebut praktik social distancing bisa dilakukan dengan melakukan pekerjaan dari rumah alih-alih kantor. Selain itu, penutupan sekolah, komunikasi via pemanfaatan teknologi, serta pembatalan acara-acara besar juga termasuk contoh praktik social distancing.

Mencegah lonjakan pasien

Selain itu, praktik karantina diri sendiri (self-quarantine) harus dilakukan orang yang berisiko terinfeksi Covid-19, atau diduga terjangkit penyakit ini. Jika seseorang sudah dinyatakan positif terinfeksi Covid-19, maka isolasi harus dilakukan. Isolasi bisa dilakukan di rumah sakit atau kediaman masing-masing.

Praktik social distancing dan karantina kolektif sudah dilakukan tak hanya di Indonesia, namun juga negara lain seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Korea Selatan. Bahkan, kebijakan ekstrim seperti karantina wilayah atau lockdown sudah dlakukan beberapa negara seperti Italia dan Cina.

Berdasarkan penelitian Imperial College Covid-19 Response Team, tindakan menjaga jarak dan karantina harus dilakukan untuk menjaga kemampuan fasilitas kesehatan menampung para pasien terjangkit Covid-19.

Dalam risetnya tim tersebut memberi contoh, lonjakan kebutuhan ruang perawatan intensif (ICU) di RS akan melampaui kemampuan faskes di Inggris dan Amerika Serikat jika langkah-langkah mitigasi seperti karantina dan social distancing tak dilakukan.

Sebagai catatan, hingga 2018 jumlah tempat tidur pada rumah sakit di Indonesia mencapai 310 ribu. Sementara rasio tempat tidur RS pada 2018 yakni 1,17 per 1.000 penduduk.

Karena itu, langkah karantina, isolasi pasien, serta social distancing harus dilakukan untuk meminimalisir lonjakan pasien dalam waktu singkat di sebuah negara.

“Tujuan mitigasi adalah untuk mengurangi dampak epidemi dengan meratakan kurva (jumlah pasien dan orang meninggal),” tulis mereka.

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Posting Komentar