wb_sunny

Breaking News

Sanggah WHO, Ilmuwan UI Nyatakan Corona Tak Akan Jadi Endemi Mirip HIV

Sanggah WHO, Ilmuwan UI Nyatakan Corona Tak Akan Jadi Endemi Mirip HIV


Ketua Tim Kedaruratan Kesehatan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Michael Ryan menyatakan COVID-19 bisa menjadi penyakit endemik di masyarakat. Ryan, yang juga pakar epidemiologi dari Irlandia, memberi contoh HIV/AIDS yang tetap ada di masyarakat.

Pernyataan Ryan ini disanggah epidemiolog Universitas Indonesia, Syahrizal Syarif. Menurut Syahrizal, virus Corona sangat berbeda dengan HIV. Saat ini manusia adalah sumber penularan utama dan sudah menjadi reservoir atau tempat tinggal HIV.

"HIV bukan self limited disease dan mempunyai masa inkubasi yang panjang," ujarnya kepada wartawan, Jumat (15/5/2020).

Menurut Syahrizal, HIV juga tidak memiliki obat pilihan dan vaksin. Pemberian obat ARV seumur hidup memang bisa meningkatkan kualitas hidup penderita HIV. Namun pasien tersebut tetap membawa virus sepanjang hidupnya.

Selain itu, HIV merupakan penyakit spesifik bersifat klaster pada kelompok berisiko atau kelompok kunci yang secara sosial bersifat tertutup. Penularan pada masyarakat umum ditandai dari tingginya kasus ibu hamil yang positif HIV.

"Deteksi dini dan penelusuran kontak pasien HIV juga menjadi masalah tersendiri karena terkait kelompok kunci. Hal ini yang menyebabkan HIV sulit dihilangkan dari kehidupan manusia," ujar doktor lulusan University of Newcastle, Australia, tersebut.

Sementara itu, SARS-CoV-2, yang merupakan virus penyebab COVID-19, termasuk jenis Corona self-limited disease, manusia bukan menjadi induk semang alamiahnya. Masa inkubasi virus tersebut terbilang singkat dari 2 sampai 14 hari. Selain itu, virus ini bisa dideteksi dengan alat diagnostik yang akurat, seperti dengan metode PCR atau polymerase chain reaction.

Meski penyakit COVID-19 belum memiliki obat-obatan pilihan dan kasus tanpa gejala tinggi di kalangan usia muda, tingkat kesembuhan pasien yang terjangkit di atas 95 persen. Syahrizal memberi contoh virus SARS-CoV yang muncul pada 2002 bisa diatasi dan dieradikasi dalam waktu 8 bulan.

Sedangkan pandemi SARS-Cov2 saat ini baru memasuki bulan ke-5. Karena itu, Syahrizal meyakini penyakit COVID-19 tidak akan menjadi endemi seperti halnya HIV. "Tidak mustahil sistem kewaspadaan yang baik dapat mengatasinya," ujarnya.

Hanya, menurut Syahrizal, untuk negara-negara dengan tingkat pendapatan menengah ke bawah, yang kapasitas laboratorium diagnostik, kemampuan penelusuran kontak, dan manajemen kasusnya terbatas, wabah COVID-19 bisa berlangsung lebih lama.

Sebelumnya, Michael Ryan dari WHO mengatakan COVID-19 mungkin tidak akan pernah hilang. Penduduk bumi harus belajar untuk hidup dengannya. WHO kembali memperingatkan bahwa tidak ada jaminan pelonggaran pembatasan tidak akan membendung gelombang kedua virus Corona. Virus ini bisa jadi berubah dari pandemi ke endemi.

"Virus ini mungkin menjadi virus endemi lainnya di dalam masyarakat dan virus ini mungkin tidak akan pernah hilang," kata Ryan seperti dilansir Channel News Asia, Kamis (14/5).

Penyakit endemik adalah suatu penyakit yang menyerang wilayah geografis atau kelompok populasi tertentu, seperti demam berdarah, malaria, hepatitis, atau bahkan HIV/AIDS.

"HIV belum juga hilang tapi kita telah menerima dan menghadapi virus itu," imbuh Ryan.

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Posting Komentar