wb_sunny

Breaking News

Jangan Bangkitkan Resesi Dalam Menghadapi Corona

Jangan Bangkitkan Resesi Dalam Menghadapi Corona


Jumlah korban jiwa akibat virus Corona telah menyentuh 813 orang atau melampaui jumlah korban virus severe acute respiratory syndrome (SARS). Ditambah faktor kepanikan, tingkat mortalitas bukan lagi jadi problem ke depan, melainkan resesi dunia.

Pemerintah Indonesia sempat terperangkap dalam jaring kepanikan tersebut, ketika berencana melarang impor produk China, utamanya makanan dan minuman. Belakangan, Istana Merdeka mengoreksi dengan menyatakan bahwa yang akan dilarang hanyalah hewan hidup.

Namun efek buruknya terlanjur muncul di pasar domestik. Harga bawang putih melonjak ratusan persen dari Rp 20.000 per kilogram (kg) hingga nyaris menyentuh Rp 70.000 per kg. China adalah sumber utama bawang putih kita, dengan porsi impor 99,6% (2018), setara dengan 580.000 ton.

Panik itu manusiawi. Namun, rasionalitas harus dijaga. Secara alami, virus akan inaktif jika berada di benda mati dan terpapar suhu ruangan lebih dari 8 jam. Periode inaktivitas itu bakal lebih cepat lagi jika berada di lingkungan dengan suhu dan kelembapan tinggi seperti Indonesia. Kepanikan sempat melanda bursa dunia di akhir Januari tetapi berangsur pulih.

Pada pekan terakhir Januari, panic selling mendera bursa China hingga indeks utama mereka anjlok lebih dari 15% terhitung sejak wabah Corona muncul ke permukaan. Koreksi juga menerpa bursa kawasan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat anjlok sekitar 4% sepanjang Januari, dan berbalik menguat 1% sepekan terakhir.

Dalam laporan riset berjudul "How We Are Thinking About Coronavirus and Its Impact on Markets", firma konsultan Bridgewater melaporkan bahwa reaksi pasar dalam jangka pendek secara umum memang lebih besar dan lebih akut dibandingkan ketika wabah SARS muncul pada tahun 2002. Kepanikan ini mestinya menghilang ketika wabah tersebut bisa diatasi.

"Proyeksi eksternal mengindikasikan bahwa efek negatif Corona dalam jangka pendek bakal lebih besar dari SARS. Namun yang menjadi pertanyaan adalah seberapa lama efek tersebut bisa ditangani," tulis analis Bridgewater Richard Falkenrath dalam laporan per 3 Februari.

Mari Atasi Virus Corona, tapi Jangan Bangkitkan Virus ResesiSumber: Bridgewater

Firma tersebut memperkirakan jika virus Corona bisa ditangani dengan cara yang sama seperti wabah SARS, maka efek ke pemulihan pertumbuhan ekonomi akan mencapai 50 basis poin tahun depan. Namun mereka mengingatkan disrupsi atas proses produksi barang dan perjalanan orang dari dan ke China akan menciptakan gangguan global.

China Dulu, Bukan China yang Sekarang

Perlu diingat, kondisi China dalam percaturan ekonomi dunia saat ini sudah jauh berbeda dari ketika virus SARS menyerang pada 2002 (dan terbukti tak memicu resesi di negara lain). China saat ini menyumbang nyaris seperlima pertumbuhan ekonomi dunia. Ketika SARS menyerang, sumbangan China saat itu baru sekitar 7%.

Nah, ketika China mati-matian menangani penyebaran wabah ini guna mencegah pukulan pertama virus ini terhadap dunia yakni korban jiwa, sayangnya negara lain seperti ingin membuka pintu atas munculnya pukulan kedua yakni resesi dunia.

Kebijakan yang diambil atas nama pencegahan secara berlebihan justru bakal mengaktifkan virus kedua, yakni virus resesi, yang menyerang kekebalan ekonomi dunia. Larangan impor produk makanan dan minuman China, jika dilakukan secara masal dan massif oleh 190 negara dunia lainnya, tentu saja bakal membuat ekonomi China kian terpuruk.

Jika ekonomi China anjlok, apa kabar negara di Asia, dan Indonesia? China saat ini merupakan mitra dagang utama Indonesia, dan masuk dalam daftar lima besar negara sumber investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI) untuk Indonesia.

Namun ironisnya, larangan penerbangan ke China mulai diberlakukan oleh beberapa negara, dimotori oleh Amerika Serikat (AS). Padahal, Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) pada 1 Februari jelas-jelas menyatakan belum ada alasan kuat untuk melakukan pembatasan lalu lintas orang dan barang ke dan dari China.

Dengan dalih mencegah penyebaran virus tersebut, AS mengeluarkan pembatasan perjalanan bagi warganya ke China. Tak tanggung-tanggung, travel advisory yang dikeluarkan langsung di level 4, alias menyamakan China dengan negara konflik seperti Libya dan Afghanistan.

Kebijakan seperti ini justru bakal mempercepat aktifnya virus resesi dunia, karena deal bisnis dilakukan dari manusia ke manusia. Batasi pergerakan mereka, maka proses produksi pun tertekan. Saat ini, jumlah warga China yang melakukan perjalanan ke Asia telah mencapai 80 juta orang per tahun, naik 8 kali dibandingkan dengan periode ketika SARS menyerang yakni hanya sekitar 10 juta orang.

Ironisnya, larangan serupa tidak pernah terjadi ketika virus H1N1 (flu babi) menyerang Negara Adidaya tersebut dan membunuh 12.000 orang. Aliran barang dan modal masih lancar pada tahun 2009, sehingga kita tidak melihat adanya resesi ekonomi dunia. Krisis yang terjadi hanyalah krisis keuangan akibat subprime mortgage loan pada 2008, bukan resesi.

Kini, ketika berbagai negara termasuk Indonesia melarang dan atau membatasi penerbangan ke China karena kepanikan virus Corona, perekonomian Negeri Tirai Bambu pun terkena tekanan ganda: dari virus Corona dan dari negara yang panik olehnya.

Semoga tekanan itu tak berujung pada gangguan supply-chain dunia. Karena jika itu yang terjadi, maka kita pun tinggal menunggu waktu hingga virus perlambatan itu memicu resesi dunia, yang bakal menulari kita.

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Posting Komentar