wb_sunny

Breaking News

JOKOWI : Tidak Terfikir Untuk Lockdown, Masih Banyak Pertimbangan

JOKOWI : Tidak Terfikir Untuk Lockdown, Masih Banyak Pertimbangan


Tidak Terfikir Untuk Lockdown

Angka penyebaran wabah virus corona COVID-19 saat ini semakin tinggi. Menurut data yang dikumpulkan John Hopkins University, Center for Systems Science and Engineering. Sudah ada lebih dari 145 ribu kasus virus corona terkonfirmasi di dunia.

Hal ini mengakibatkan beberapa negara memutuskan untuk lockdown. Kegiatan di tempat umum seperti sekolah, universitas, hingga objek wisata sementara ditutup.

Salah satu cara yang dianggap dapat mencegah penyebaran virus corona saat ini adalah social distancing measures (menjaga jarak sosial). Apa itu social distancing measures?

Melansir dari The Atlantic, social distancing adalah tindakan yang bertujuan mencegah orang sakit melakukan kontak dalam jarak dekat dengan orang lain untuk mengurangi peluang penularan virus.

Sedangkan menurut Center for Disease Control (CDC), social distancing adalah menjauhi perkumpulan, menghindari pertemuan massal, dan menjaga jarak antar manusia.

Social distancing dianggap bisa mengurangi risiko penyebaran virus corona karena virus ini menular antarmanusia melalui droplet (partikel air liur) ketika penderita bersin atau batuk.

Dalam mempraktikkan social distancing, kamu dapat menjaga jarak minimal dua meter dengan orang lain dan dianjurkan tidak melakukan jabat tangan atau berpelukan saat bertemu orang lain.

Jokowi menggarisbawahi pemerintah saat ini berupaya mengurangi mobilitas orang dari satu tempat ke tempat lain, menjaga jarak dan mengurangi kerumunan orang yang membawa risiko besar penyebaran COVID-19.

Anggota Dewan Penasihat Himpunan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (HIPPINDO) Tutum Rahanta, mengatakan lockdown tak bisa jadi pilihan begitu saja, karena harus mempertimbangkan solusi dari dampaknya.

"Bagaimana impact-nya, bagi saudara kita yang nggak ada kerja, terutama bagi orang yang biasa mendapat rezeki dari keramaian," kata Tutum kepada CNBC Indonesia.

Selain itu, menurut Tutum kebijakan lockdown harus benar-benar dipersiapkan, karena konsekuensi saat banyak orang tak bisa keluar rumah maka segala kebutuhan pokok harus tetap tersedia. Ia mencontohkan kebijakan lockdown yang terjadi di Kota Wuhan, asal mula virus corona.

"Kalau di China dilakukan lockdown, setiap orang tak boleh keluar rumah, supermarket tetap tersedia hanya 2 hari sekali dijatah. Lalu pemerintah membuat dapur umum yang disediakan, lalu pemerintah harus beri subsidi bagi pemberi kerja saat lockdown terjadi. Apakah kita tak mampu? tak mampu," kata Tutum.

Ekonomi Bisa Terkontraksi 

Citi memaparkan dua skenario utama. Pertama adalah jika pengeluaran wisman turun atau bahkan tidak ada sama sekali.

Jika pengeluaran wisman global turun 10%, maka pertumbuhan ekonomi dunia pada 2020 diperkirakan 2,34%. Kalau penurunannya 30%, maka pertumbuhan ekonomi menjadi 2%. Apabila penurunannya sampai 100%, maka pertumbuhan ekonomi menjadi hanya 0,76%.

Skenario kedua adalah ketika pengeluaran wisman dan wisdom bermasalah. Jika pengeluaran wisman dan wisdom turun 10%, dampaknya adalah pertumbuhan ekonomi dunia tahun ini hanya 1,86%. Kemudian kalau penurunannya 30%, maka pertumbuhan ekonomi lebih tertekan lagi menjadi 0,57%. Paling parah adalah ketika pengeluaran berkurang 100%, ekonomi global akan terkontraksi -4,04%.

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Posting Komentar